Dampak Perang Diponegoro Terhadap Pihak Belanda



Perang yang berlangsung 5 tahun ini tidak mungkin tidak ada pihak yang dirugikan karena ini merupakan perang yang berlangsung lama. Belanda juga mengerahkan pasukan yang begitu banyak. Tercatat dalam sejarah Belanda mengalami kerugian yang diakibatkan oleh tewasnya 15.000 tentara Belanda yang terdiri dari 8000 tentara eropa dan 7000 serdadu pribumi. Hal ini menjadikan Hendrik Merkus de Kock, yang pada saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada periode 1826-1830, mendapat banyak kritik dari para presiden Belanda karena pasukannya yang gagal melumpuhkan perlawanan Pangeran Diponegoro.

Belanda terpaksa mengubah strategi dari pengejaran langsung terhadap Diponegoro menjadi strategi pengepungan dengan membangun benteng dan pos pertahanan. Hal ini menunjukkan bahwa taktik perang yang diterapkan oleh Pangeran Diponegoro terbukti efektif dan membuat belanda kewalahan.

Selama lima tahun, berbagai cara sudah dicoba oleh Jenderal de Kock untuk mematahkan kekuatan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh kira-kira setengah juta orang di pulau jawa. 

Pada akhirnya Belanda mengubah strategi dari pengejaran langsung terhadap Pangeran Diponegoro menjadi strategi pengepungan dengan membangun benteng dan pos pertahana atau yang terkenal dengan sebutan benteng stelsel. Dan ternyata terbukti cukup efektif.

Biaya perang sendiri kira-kira mencapai 20 juta gulden. Akibat perang besar tersebut menjadikan infrasruktur dan perkebunan-perkebunan swasta rusak. Hal ini berakibat pada penurunan produksi pertanian. Namun, belanda juga mendapatkan beberapa keuntungan seperti penguasaan mutlak Belanda atas tanah jawa langkah awal ini juga menjadi langkah kunci belanda dalam menguasai pulau jawa.

Setelah perlawanan ini berakhir, menjadikan melemahnya kekuasaan raja-raja dan bupati di jawa agar tunduk dengan Belanda. Dengan menyetir raja dan bupati hal ini menjadikan kontrol yang kuat terhadap pulau jawa. Hal tersebut membuat Belanda semakin mudah untuk mengendalikan pemerintahan di Jawa.

Kemudian akhirnya belanda berhasil menangkap pangeran diponegoro dengan melewati fase yang begitu panjang dan kerugian yang amat besar. Pangeran Diponegoro akhirnya berhasil ditangkap oleh belanda pada tahun 1830 yang kemudian pangeran diponegoro diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara sebelum akhirnya Pangeran Diponegoro meninggal pada 8 Januari 1855. Penangkapan Pangeran diponegoro menandakan akhir dari perang yang berlangsung lama ini. 

Dalam hal politik juga Belanda mengakami banyak kerugian seperti kerugian prestise. Perang Diponegoro menunjukkan kelemahan Belanda dan menurunkan prestise mereka dimata dunia internasional. Hal ini membuat Belanda semakin sulit untuk mempertahankan kekuasaannya di Indonesia.

Selain itu kebijakan cultuurstelsel lebih gencar dilakukan sebab hal ini bertujuan untuk menutup kerugian ekonomi Belanda yang diakibatkan oleh perang Diponegoro. Kebijakan ini memaksa rakyat Jawa untuk menanam tanaman ekspor seperti kopi dan tebu, yang mengakibatkan penderitaan rakyat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini